Tuesday, August 18, 2015

Cerita Menarik Kehidupan Rani Noerinsan Pembawa Baki Penurunan Bendera Pusaka HUT RI Ke 70

Cerita Menarik Kehidupan Rani Noerinsan Pembawa Baki Penurunan Bendera Pusaka HUT RI Ke 70 - Topik menarik tentang pembawa baki bendera pusaka pada HUT RI ke-70 kemarin adalah membaca kisah perjalanan gadis bernama Rani Noerinsan. Gadis asal Gorontalo yang lahir di Jakarta 13 Oktober 1999 ini. Kisah kehidupan gadis Paskibraka yang admin TS dapatkan dari situs paskibraka-comunity.com ini sangat mengisnfirasi kita semua.

Rani memang lahir di Jakarta, tapi dia lebih memilih untuk kembali ke Gorontalo. Alasannya kembali ke Gorontalo tak lain karena keluarga besarnya yang ada di Gorontalo.

Rani Noerinsan Pembawa Baki Penurunan Bendera Pusaka HUT RI Ke 70
BACA:
Biodata dan Foto Pembawa Baki Bendera Pusaka HUT RI 70 Maria Felicia Gunawan dan Rani Noerinsan

Begitu menikah orang tua Rani,  Amir Utiarahman dan Darmawaty Sabihi yang asli Gorontalo memang pindah ke Jakarta lantaran ayah Rani bekerja di sebuah perusahaan swasta asing dan harus bertugas di kantor pusat. Makanya, kedua anak perempuan mereka lahir di Jakarta, yaitu Rani dan kakaknya yang hanya lebih tua 1,5 tahun.

Dan pada saat duduk di kelas 6 SD, Rani meminta pulang ke Gorontalo dengan alasan keluarganya lebih ramai di sana. Dan sejak tahun 2011 tersebut Rani kembali menjadi anak Gorontalo, tapi ayahnya masih tugas di Jakarta.

“Saya lebih senang kumpul dengan keluarga, walaupun keluarga kami sederhana,” ujar Rani merendah.

Rani bersekolah di SD N 30 Gorontalo, SMP N 1 Gorontalo dan sekarang di SMAN 3 Gorontalo, sekolah yang memberinya kesempatan bergabung menjadi Paskibraka tingkat nasional. Pilihan untuk kembali ke Gorontalo dulu ternyata membawa berkah, karena kini dia terpilih sebagai utusan Provinsi Gorontalo dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2015.

Cerita Menarik Kehidupan Rani Noerinsan Pembawa Baki Penurunan Bendera Pusaka HUT RI Ke 70

Paskibraka di mata Rani
Paskibraka di mata Rani adalah salah satu jalan untuk menggapai cita-citanya menjadi polisi wanita. Menurut Rani, apa yang dijalani dalam latihan nanti, atau pada saat seleksi Paskibraka kemarin, adalah replika kecil dari yang akan dihadapinya pada saat akan memasuki gerbang Akademi Kepolisian.

Gadis yang mempunyai hobi membaca novel dan menyanyi, Rani dan kakaknya sama-sama sangat menyukai film-film Islami dan drama, terutama drama Korea.

 “Boleh dibilang kami berdua K-Popers,” papar penggemar berat Lee Min Ho ini.

Dan salah satu yang menarik dari Rani adalah tentang prinsip hidupnya. Moto hidupnya yang diambil dari kutipan magician Deddy Corbuzier dalam program TV Hitam-Putih bahwa “buku yang baik itu membutuhkan sampul yang baik pula”. “Maksudnya, kalau jasmani kita tampil dengan baik, maka rohani kita akan baik pula. Apabila keduanya baik, maka hidup kita akan bahagia dan sejahtera,” katanya berfilsafat.

Ditanya mengenai kesehariannya yang mengenakan jilbab, diakuinya bukan untuk meyakinkan orangtuanya atau orang lain kalau dia seorang yang religius. Kehidupan keluarganya masih dalam taraf biasa-biasa saja seperti juga yang lain, walaupun tetap mengedepankan agama. “Saya sendiri masih belajar untuk hidup yang lebih baik di jalan Allah,” paparnya.

Selamat ya Rani, sukses selalu untuk kamu!

CARI TAHU:
Maria Felicia Gunawan Pembawa Baki HUT RI Ke 70 itu Ternyata....

0 comments:

Post a Comment